Selebriti Ke Laut Aje!

cover-desember-2008Laki-laki berpostur tegap tinggi itu kini makin terlihat pucat. Berkali-kali ia memencet jerawatnya eh tombol di telepon genggamnya dan sebentar kemudian dimasukkan lagi ke saku celana jeansnya yang ketat. Sepertinya nomer yang ia tuju tidak terhubung juga.
Ia menyeka peluh di wajahnya dengan lengan bajunya. Sebentar ia mengintip dari balik panggung. Penonton masih terus berteriak. “Fian! Fian!! Fian!!” Pembawa acara dan segenap kru band telah menyelamatkan diri dari lemparan botol-botol air mineral, bungkus rokok dsb ke atas panggung.
Kini semua kru menatap kearahnya seolah menyuruhnya untuk bertanggung jawab atas kericuhan ini. Bertanggung jawab atas ketidak hadiran sang bintang idola Fian. Acara betajuk jumpa Fian ini telah terlanjur dihadiri ratusan penonton yang telah berjubel bahkan dari semenjak sore tadi.
Ia menarik nafas panjang dan membuka tirai panggung lalu bergegas mendekati mikrofon. Ia ingin meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Tapi belum sempat ia berpatah kata, hujan lemparan bertubi-tubi mengenai tubuhnya.
“Huuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!” cemooh penonton
Namun begitu, tiba-tiba hujan lemparan sama sekali berhenti. Bahkan para penonton berbalik membelakangi panggung. Rupanya ada segerombolan orang datang. Belasan laki-laki bertuxedo dan berkaca mata hitam. Dengan sigap seperti layaknnya tentara, mereka terbagi menjadai dua baris dan diantara mereka kini terlihat sesosok pemuda dengan kostum setelan jas putih yang trendy. Ya! Dialah Fian. Yang bersama para pengawalnya itu berjalan ke arah panggung membelah kerumunan penonton.
Kontan saja para penonton yang adalah penggemar beratnya Fian berteriak histeris, terutama para gadis. Mereka menjulurkan tangan menggapai-gapai kearah sang bintang. Fian terus berjalan dan tersenyum wibawa sambil beberapa kali melambaikan tangan.
Sesampainya mereka di panggung “pintu” penonton tadi tertutup kembali. Tapi sepertinya ada seseorang yang mencoba membelah kerumunan itu. Dari kostumnya sepertinya ia seorang satpam.
Baru saja pembawa acara ingin membuka acara, tiba-tiba terjadi kegaduhan lagi dari arah penonton. Rupanya ada seseorang yang memaksa naik ke panggung, si satpam tadi. Meskipun telah dijaga dengan penjagaan yang ketat ia berhasil lolos dan beranjak ke panggung dan langsung mendekati Fian.
“Sekarang kerjakan PR kemarin di depan!” perintah satpam itu
“Sembarangan! Gue tuh mo nyanyi bukan ngerjain PR!” Fian melotot. Tapi ia merasa tak asing dengan raut wajah satpam itu.
“Fian!!! Kamu ngelamun lagi!!!” tiba-tiba sosok satpam tadi berubah menjadi Pak Joni. Guru kimianya yang super killer.
“Sekarang kamu keluar. Cuci muka!” seisi kelas menahan tawa.
“eh… baik pak.” Dalam hatinya Fian bersyukur sekali. Kesalahan sebesar ini gak dihukum apa-apa. Cuman suruh cuci muka.
Fian pun melenggang ke luar kelas. Tapi baru saja ia mendekati pintu kelas Pak Joni menambahkan. “Sebelum kamu cuci muka, lari keliling lapangan sepuluh kali, sambil nyanyi balonku ada seribu.”
Anak-anak sekelas tak mampu lagi menahan tawa.
Wah Fian… Fian… kayaknya ngebet banget jadi artis nih sampe kebawa-bawa waktu sekolah. Tapi kalo perihal ingin jadi artis sih Fian gak sendirian. Banyak banget dari golongan para pemuda pemudi Indonesia yang bercita-cita jadi artis. Entah itu jadi pemaen pelm, sinetron, bintang iklan, penyanyi, model, presenter en so on.

  • Dunia Artis Di Sekitar Kita

Nah sebagaimana pepatah ada gula ada semut, maka ada mie instant ada juga artis instant. He…  maksa. Namanya juga instant, maka proses jadi artis instant pun bisa kebilang cepet. Salah satu caranya tak lain tak bukan adalah dengan ikutan ajang kontes pencarian bakat ato reality show.
Di Indonesia sendiri bejibun acara macem gini yang sudah digelar mulai dari AFI ampe Pildacil. Peminatnya pun alamak luar biasa. Proses audisi di berbagai kota selalu diikuti oleh ribuan peserta. Mereka berbondong-bondong mengejar impian mereka untuk bisa menjadi terkenal, kaya, tampan/cantik, punya suara merdu, dikagumi banyak orang, dan masih muda lagi.

Tapi nih, seperti gunung, enak dilihat dari jauh, tapi kalo dideketin bisa jadi terjal, berbatu, mana hujan, becek, gak ada ojek lagi. Gitu juga dengan apa yang dialami cowok cewek yang telah jadi alumni-alumni acara-acara tadi. Ada yang sukses, tapi banyak juga yang hidup susah.

Dari perjalanan reporter SAHABAT ke dunia maya, sempat pula berwawancara tidak langsung dengan Limbert. Doski rupanya cukup mengikuti perkembangan para alumni-alumni Akademi Fantasi Indosiar. Berikut petikannya;
“Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah seorang personel AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) gw juga dapat cerita seru dari kehidupan mereka. Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di teve, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan.

Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah. Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot sms putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua mereka sanggup menghabiskan uang untuk sms. Orang tua A**** dan B****  abis 1 M. Namun mereka orang kaya, biarin aja.

Yang kasian mah, yang kaga punya duit. F**** (AFI 2005) yang tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal RP 500.000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kos itu sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah buat F***. Kagak ada dugem and kehidupan glamor, lha makan aja susah.

Ada banyak yang seperti F****. Sebut saja I, N, Y, E, dll. Mereka terikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa cari job di luar Indosiar. Bayaran di Indosiar sangat kecil. Lagian pembagian job manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti J**** dan P****  kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat job. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak karena takut ga bisa bayar.

Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada mereka.

Kasian orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat orangtuanya punya utang yang melilit pinggang, yang tidak akan terbayar sampai kontraknya habis.

Mungkin ada yang tertarik buat ngangkat cerita itu ke media anda? Gw punya nomer kontak mereka. Gaya hidup mereka yang kontras dengan image publik kayanya menarik untuk diangkat. Ini juga penting agar anak-anak dan orang tua di Indonesia kaga tertipu lebih banyak lagi.”

Nah sahabat, ini baru dari sisi dunianya aja lho. Belum lagi kalo kita melihat aspek perbekalan untuk hari akhiratnya. Perjalanan sebagai manusia yang semestinya sebagai hamba yang bertaqwa. Tapi sebelum itu mari kita simak dulu beberapa kiprah selebriti. Eh iya kalo merujuk kamus, selebriti itu artinya perihal orang-orang terkenal. Nah selebriti yang kita maksud disini lebih kita khususkan kepada artis yang utamanya terjun dalam bidang entertainment alias dunia hiburan.

  • Agen Perubahan

Sosok selebriti manjur banget untuk bisa melakukan perubahan. Gaya hidupnya senantiasa menjadi sorotan. Bagaimana ia bersikap, bersolek, berpakaian dsb sering diikuti terutama oleh penggemar beratnya.

Mereka (para penggemar) menilai bahwa dengan mengikuti gaya hidup artis, mereka bisa berbahagia. Pernah kok, waktu itu salah satu kru SAHABAT habis ada liputan di jakarta, dalam sebuah kereta yang berjubel, terdapatlah sebuah keluarga yang dahulunya hidup bahagia (wah kok mengarah dongeng gini). Singkatnya, si anak laki-laki yang paling sulung ditanya perihal cita-citanya. Dengan manteb si anak menjawab, ingin jadi musisi! Jawaban yang sangat memukul si Ayah.

Emang sih, terlebih dengan berjamurnya grup-grup band baru, dan kehadiran mereka diterima (laku) oleh masyarakat pecinta musik Indonesia, menjadi musisi adalah profesi dambaan. Gimana enggak, sekali manggung bisa dapet puluhan juta (masih dibagi-bagi sih) ato bahkan kalo bandnya terkenal abiz bisa ratusan juta. belum lagi disorakin dan dielu-elukan para pengunjung. “Elu!! elu!!! elu!!!!” Terhormat banget kan? Kayak raja.

  • Pemuja Sekaligus Pemorak-Poranda Cinta

Tunggu dulu! Gak semulia itu man! Mari kita lihat beberapa sisi gelap artis. Kali ini dimulai dari para musisi nih, terutama vokalis ato juga para pencipta lagu. Kalo bikin lagu beuu…. Romantis abiz. Engkaulah matahariku rembulan hidupku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Kamulah satu-satunya yang hidup dalam hati beybeh!!! Tapi kenyataannya. Jauuuuuuh banget. liat aja, rumah tangga artis yang adem tentrem bisa diitung dengan kalkulator.

Perselingkuhan, nikah siri, serumah tanpa ikatan pernikahan, dsb mewarnai kehidupan mereka. Yang rasanya sangat gak mecing banget dengan gombalan mereka yang tertuang dalam alunan lagu. Dan anehnya lagu-lagu mereka masih aja jadi ‘dalil’ oleh pemuda-pemudi yang lagi jatuh cinta.

  • Life Is Free

Free di sini bukan berarti gratis loh, tapi yang redaktur (ciee redaktur) maksud adalah ”bebas”. Hidup itu Bebas. Bebas mo ngapain aja. Inilah spanduk yang diusung oleh segenap artis kita. Sebagai bangsa timur yang kebarat-baratan, kiblat hidup sering di arahkan ke Hollywood ato negeri2 eropa sono, bukannya ke Ka’bah. Apa yang di tampilkan di sono trus diikutin artis-artis kita dan dilanjutkan ke para penonton setia. berantai gitu deh.

Berapa banyak artis kita yang terjerat narkoba. Bahkan yang udah bangkotan pun ikut-ikutan. Bahkan lagi nih udah dikeluarin dari penjara eh malah ”make” lagi. Ya ditangkeplah tuh sama pak pulisi. Belum lagi yang mabok-mabokan, lebih banyak lagi tuh.

Hamil diluar nikah? Banyaaak! Udah gitu baru deh nikah. Baru aja nikah berapa bulan udah lahir si jabang buaya eh si jabang bayi. Kehidupan asmara mereka amburadul deh. Maklumlah (kok dimaklumin sih) penggemar dari golongan lawan jenis mereka kan banyak tuh.

  • Susahnya Jadi Artis

Gak mudah jadi artis, gak mudah untuk meraihnya, gak mudah pula untuk menjalaninya. Kalo sekedar melihat dari penghasilan mereka mungkin kita bisa tergiur tapi melihat bagaimana susahnya mereka jadi orang yang ‘bener’ mungkin bisa jadi kita mikir ribuan kali untuk kita bercita-cita jadi artis.

Susahnya menjaga diri adalah salah satu konsekuensi logis jadi artis. Dunia mereka sangat dekat dengan dunia hura-hura, ato bahkan dari sana dunia mereka berasal. Isinya bagaimana untuk berhibur, tanpa ada batasan dan aturan. Dugem alias dunia gemerlap adalah makanan rutin. Gak kebayang deh ada orang yang rutin Dugem cuma pesen orange jus ato teh manis doang lalu pulang. Padahal di sini pergaulan bebas sedang terbuka selebar-lebarnya.

Di lihat dari sisi penampilan, kaum putri yang paling susah jaga aurat. Padahal kan dah jelas tuh kewajibannya dalam alqur’an, tapi boro-boro pake jilbab (meskipun ada juga sih beberapa) berpakaian relatif menutup pun susah. Mereka lebih suka yang terbuka dan menggoda gituh.

Belum lagi dilihat dari masalah keduniawian, senantiasa hidup dikalangan atas akan membuat pandangan selalu ke atas. Kekayaan sebesar apapun susah untuk menjadikan diri bersyukur. Yang ada malah persaingan-demi persaingan untuk menambah kekayaan dunia.

Menomor satukan penampilan tentunya bisa mengakibatkan terabainya aspek keilmuan. Lihat aja kalo artis-artis ini diwawancarai tentang keilmuwan (meskipun ada juga sih artis berotak encer) mereka suka gak nyambung.

  • Selebriti Yang Kembali Dari Laut

Masih ada lagi? Hmm banyak tapi segini dulu deh, entar malah jadi kayak infotainment lagi. Tapi gak semua selebriti amburadul kok ada juga yang insyaf lantas kembali ke jalan yang benar. Dan rata-rata mereka yang insyaf ini terlihat sedikit menjauh dari dunia keartisan. Kalopun ada job mereka akan sangat selektif, yang kira-kira gak banyak mudhorotnya.

Artis ”balik dari laut” seringnya musim-musiman. Biasanya pas bulan puasa. Baru deh mereka menutup aurat, bikin album religi, nyumbang sana-sini. Di satu sisi baguslah itu juga merupakan berkah dari bulan ramadhan. Tapi mbok yao berlanjut sampe bulan-bulan sesudahnya gitu.

Fenomena ini bisa jadi juga merupakan pengkaburan persepsi, para penonton akan semakin menggandrungi artis idola mereka. ”Mereka toh bisa beribadah juga!” Dan ini akan ’memutihkan’ dalam artian melegalkan perilaku-perilaku mereka yang menyimpang alias ga papa dong berbuat maksiat asal sempet berbuat taat. Iya kalo sempat.

Hmmm.. Finally, tulisan ini sama sekali gak bermaksud neraka-nerakain para artis, coz masalah diterimanya/ditolaknya amalan, syurga dan neraka adalah Kuasa Allah SWT. Kita Cuma mo ngingetin supaya kita semua gak kejebak pada sebuah keinginan ato cita-cita menjadi artis terkenal, sebab akan susah buat kita untuk senantiasa menjadi orang yang baek-baek.

Sebab kata orang-orang bijak nih, kalo gak mau kena masalah dengan cat jangan bermain cat, kalo gak mau kena masalah dengan api ya jauhilah api. Jadilah terkenal dengan prestasi dan kebaikan yang kau buat bagi masyarakat banyak. Sebab kebaikan yang disebarkan seperti benih yang bisa kita panen ketika orang-orang mengikuti kita berbuat baik. Dan juga sebaliknya ketika kita mencontohkan perbuatan buruk dan menjadi ikutan banyak orang, kita juga akan menerima hasilnya. Wallahua’lam

Iklan

~ oleh Sahabat pada November 12, 2008.

Satu Tanggapan to “Selebriti Ke Laut Aje!”

  1. Assalamu’alaikum Wr Wb. Salam hangat untuk ukhuwah utk teman2 di sahabat. Kunjungi web kami di asysyifausakti.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: