The Next HERO

cover-depan

Sekelumit cerita tentang kepahlawanan sahabat Rasulullah …
Adalah Miqdad bin Amr yang termasuk dalam rombongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keIslamannya secara terbuka dengan terus terang, serta menanggungkan penderitaan dari amarah murka dan kekejaman Quraisy yang dihadapinya dengan kejantanan para ksatria dan keperwiraan kaum Hawari!

Perjuangannya di medan Perang Badar tetap akan jadi tugu peringatan yang selalu semarak takkan pudar. Perjuangan yang mengantarkannya kepada suatu kedudukan puncak, yang dicita dan diangan-angankan oleh seseorang untuk menjadi miliknya.

Berkatalah Abdullah bin Mas’ud yakni seorang sahabat Rasulullah SAW, “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini….”

Pada hari ketika Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat, dengan semangat dan tekad yang bergelora, dengan kesombongan dan keangkuhan mereka, pada hari itu kaum Muslimin masih sedikit yang sebelumnya tak pernah mengalami peperangan untuk mempertahankan Islam, dan inilah peperangan pertama yang mereka terjuni.

Sementara Rasulullah menguji keimanan para pengikutnya dan meneliti persiapan mereka untuk menghadapi tentara musuh yang datang menyerang, baik pasukan pejalan kaki maupun angkatan berkudanya. Para sahabat dibawanya bermusyawarah; dan mereka mengetahui bahwa jika beliau meminta buah pikiran dan pendapat mereka, maka hal itu dimaksudnya secara bersungguh-sungguh. Artinya dari setiap mereka dimintanya pendirian dan pendapat yang sebenarnya, hingga bila ada di antara mereka yang berpendapat lain yang berbeda dengan pendapat umum, maka ia tak usah takut atau akan mendapat penyesalan.

Miqdad khawatir kalau ada di antara Kaum Muslimin yang terlalu berhati-hati terhadap perang. Maka dari itu sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kalimat-kalimat yang tegas dapat menyalakan perjuangan dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum.

Tetapi sebelum ia menggerakan kedua bibirnya, Abu Bakar Shiddiq RA telah mulai bicara, dan baik sekali buah pembicaraannya itu, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya. Setelah itu Umar bin Khatthab RA menyusul bicara, dan buah pembicaraannya juga baik.

Maka tampillah Miqdad, katanya, “Ya Rasulullah, teruskanlah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda….! Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu di sini. Tetapi kami akan mengatakan kepada anda, ‘Pergilah anda bersama Tuhan anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping anda….!’ Seandainya anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kiri anda, di bagian depan dan di bagian belakang anda, sampai Allah memberi anda kemenangan….!”

Kata-katanya itu mengalir tak ubahnya bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Dan wajah Rasulullah yang berseri-seri karenanya, sementara mulutnya komat-kamit mengucapkan do’a yang baik untuk Miqdad. Serta dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalirlah semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan….!

Maka tak heran bila Miqdad memperoleh kehormatan dari Rasulullah SAW dan menerima ucapan, “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya padaku bahwa Ia mencintaimu.”

Subhanallah!!!

Berawal dari kepahlawanan Miqdad bin Amr, sudahkah kita mewarisi jiwa dan semangat kepahlawanan seperti beliau? Yang dengan gagah beraninya berjuang membela Islam, sampai darah penghabisan. Seharusnya kita bisa belajar serta meniru semangat kepahlawanan beliau.

Indonesia pun tumbuh dengan semangat perjuangan para pahlawannya yang telah berjuang dengan tetesan darah dan air mata. Namun seringkali moment Hari Pahlawan pada 10 November hanya sebagai peringatan seremonial belaka. Slogan “bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” sudahkah benar-benar bermakna? Inilah instrospeksi buat kita. Terutama buat para pemudanya.

Kita tentunya berharap semoga ribuan pahlawan tidak gugur sia-sia dan hanya tinggal nama. Semoga kepahlawanan mereka tidak sekadar menjadi teks cerita. Dan semuanya tergantung bagaimana kita meneladaninya.

Tetapi menjadi pahlawan tidak hanya sekedar harus maju ke medan perang, pahlawan masa kini jauh lebih berat  karena musuh yang kita hadapi tidak kelihatan wujudnya. Lalu apa sebenarnya musuh kita saat ini? Musuh yang harus kita hadapi saat ini adalah kemalasan, kemunafikan, keegoisan, dan berbagai macam sifat-sifat duniawi yang tidak mencerminkan jiwa kepahlawanan. Tapi, dengan kesadaran pribadi dan dukungan dari lingkungan di sekitar kita terutama di keluarga masing-masing, maka yakinlah, kita akan mampu menghadapi dan menjadikan bangsa kita bangsa yang besar, bangsa yang tidak hanya bisa berkata “kami menghargaimu pahlawan” tapi juga turut serta menjadi seorang pahlawan sejati masa kini. Menjadi seorang wanita atau laki-laki, tua atau muda tidak bisa ditawar-tawar, tapi mau atau tidak ikut berpartisipasi itu adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi pahlawan.

Mimpi Yang Terbeli

Bangsa Indonesia saat ini masih terus bergolak membangun ulang kejayaan. Salah satu pilar untuk ini adalah dengan memperkenalkan sosok-sosok kepahlawanan di tengah masyarakat. Masyarakat saat ini memang sangat haus menanti tetesan-tetesan embun kepahlawanan di tengah gersangnya kehidupan. Mereka menanti ruang-ruang sejarah diisi oleh manusia-manusia yang mau berpikir dan bekerja keras. Manusia-manusia yang punya kesadaran kuat, bahwa eksistensi dalam hidupnya adalah untuk membangun dan merekayasa sejarah kemanusiaan ke arah yang lebih baik. Dan bukan tidak mungkin sosok itu muncul dari kita-kita sendiri, yaitu para pemuda!

Nah, sebagai generasi muda seharusnya kita punya jiwa kepahlawanan yang lebih dari yang lainnya. Raga kita masih kuat, jiwa kita juga masih jiwa muda dan penuh semangat, maka marilah kita manfaatkan waktu dengan sebaiknya-baiknya untuk ikut berperan menjadi pahlawan sejati, the real HERO! Menjadi pembelajar sejati, dan terus berbuat manfaat dalam setiap langkah hidup.

Trus, gimana sih kiat-kiat kalo pengen jadi pahlawan? Nih SAHABAT kasih sedikit bocoran biar kita bener-bener bisa jadi pahlawan.

1.    Berani bermimpi. Seorang ulama pernah berkata, ”mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Kalo kamu ngaku  sebagai remaja yang sedang beranjak dewasa dan punya banyak keinginan dan harapan yang harus diwujudkan, maka SAHABAT mau ngucapin SELAMAT! Buat kamu. Sebab mimpi adalah pondasi pertama yang akan menuntun kita menemukan akhir arah perjalanan hidup kita. Cita-cita jadi penemu mesin kendaraan hemat energi, pendiri sekolah gratis & berkualitas bagi anak tidak mampu, jadi ahli politik buat ngerubah negeri indonesia ini menjadi bangsa yang bebas dari KKN dan ketergantungan terhadap negara lain, hingga berobsesi jadi ulama pemersatu ummat… setidaknya bisa mewakili dari beberapa harapan bangsa ini. Yang penting tunjukkan obsesimu!

2.    Konsekuen dan konsisten.
Mimpi doank ternyata belum cukup tuh… yang enggak kalah penting adalah upaya dan kerja keras buat mewujudkan mimpimu. Belajar dengan tekun, memperbaiki sikap dan membentuk mental dan pribadi yang kuat , serta bekal agama yang mantap dalam ilmu dan pengamalannya kudu kita buktikan di kehidupan sehari-hari.
”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (Q.S. Ar Ra’d : 11).
Sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah SWT, akan tetapi Allah juga menitipkan sebagian kehendak itu kepada kita makhlukNya. Bola sekarang ada ditangan kita, tinggal bagaimana kita mengelolanya aja. Toh, yang merasakan hasilnya kita sendiri. Maka persiapkan dan lakukan yang terbaik untuk hasil yang terbaik.

3.    Mengerti akan makna ”Pahlawan” sebenarnya.
Secara sederhana pahlawan itu adalah orang biasa yang mampu mengerjakan pekerjaan luar biasa. Dan biasanya dampak pekerjaannya itu dirasakan oleh orang banyak. Sehingga wajar bila seorang pahlawan memiliki banyak pengikut. Juga dalam kemunculannya, seorang pahlawan senantiasa membentuk sejarah, bukan hanya sekedar bagian dari sejarah untuk selanjutnya menjadi usang dan terlupakan. Namun yang juga perlu diingat, hendaklah kita menjadi pahlawan dunia akhirat. Buat apa menjadi pahlawan yang di sanjung dan dihormati didunia, namun malah mendapat siksa dineraka. Gak pengen khan kalo ada yang mengenang kita sambil menangis terisak-isak mengenang jasa dan kepahlawanan kita, eh… ternyata kita yang dikenangnya sedang disiksa dialam kubur karena orientasi kepahlawanan kita cuma tertuju pada dunia saja. Lantas apa bedanya kita sama Hitler (NAZI), Karl Marx (KOMUNIS / SOSIALIS), ataupun Kemal At-Taturk (SEKULER) yang sangat disanjung-sanjung para pengikutnya. Hmmm… Jangan sampe dech!!!

4.    Bercermin Kepada Sebaik-Baiknya Generasi.
Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya adalah sebaik-baik pahlawan kemanusiaan, karenanya kehidupan beliau menjadi sumber inspirasi utama untuk membangun jiwa kepahlawanan. Generasi yang telah menaklukan hampir 2/3 dunia itu telah menyebarkan kedamaian Islam hingga kepelosoknya selama hampir 1300 tahun. Semua daerah yang dirambah Islam benar-benar benar merasakan keadilan dan kesejahteraan yang diterapkan oleh para pejuangnya. Maka wajarlah bila Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan pertama dalam buku laris ”Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah,” mengungguli tokoh manapun yang pernah lahir dimuka bumi ini. Bahkan Hasan An-Nadwi, seorang ulama terkenal asal India menulis di pengantar buku Sirah Nabi yang dia tulis, bahwa di India wajib mengajarkan sirah Nabi kepada anak-anak. Bahkan ada ungkapan hikmah “addibuu awlaadakum alaa tsalatsati hishaalin: tilawatil quran, wa hubbi nabbiyika wa aali baitihi,” didiklah anak-anak kalian akan tiga hal: tilawah al quran, cinta Nabimu dan cinta keluarga Nabi.
Dan kita nih, para remaja sekarang, gak boleh deh malu-malu lagi kalo ditanya siapa sih pahlawan dan idola kita… Maka lantanglah menjawab: ”Muhammad SAW dan para sahabatnya!!!”

Jadi Pahlawan Masa Kini

Last but not least… Zaman udah semakin maju, kebebasan pun semakin terbuka lebar bagi kita para remaja untuk berekspresi ngunjukin diri ”SIAPA KITA SEBENARNYA.” Saatnya sekarang yang muda berkarya.

Pribadi yang kokoh dan mandiri, dinamis dan kreatif, spesialis (ahli) dan berwawasan global, murabbi (pembina) yang produktif dalam masyarakatnya, mampu beramal jama’i (bekerja sama), pelopor perubahan (agen of change), serta memiliki ke-tokohan sosial udah saatnya kita yang pegang.

Ayo bangun… Jangan tidur aja!! Perubahan enggak akan datang hanya dengan khayalan. Nasib pun tak akan berubah bila kita cuma hanyut dalam lamunan. Oleh sebab itu berubahlah!!! Sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan jadilah ”Pahlawan.” Bagi dunia ini, bangsa ini, ato bahkan untuk masyarakat sekitar kita, keluarga kita, dan setidaknya bagi diri kita sendiri. Untuk kita selamatkan agar bahagia di kehidupan dunia dan akhirat nanti. Who want’s to be the next HERO?

Wallahu A’lam Bishshowab

~ oleh Sahabat pada Maret 26, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.